Bergaya Indische Empire Stijl
namun kaya akan unsur dekoratif, merupakan ciri khas produk Eropa masa
lampau dengan nilai-nilai budaya yang berlaku pada zaman itu.
Koleksi meja ini memiliki sejarah dalam yang berkembang dari kolonial Hindia Belanda yang memiliki latar belakang historis yang dipengaruhi oleh budaya Eropa masa lampau.
Jejak-jejak perabotan masa kolonial karakteristiknya yang kuat sebagai langgam yang mudah dikenal.
Bentuk kaki penopang meja berciri khas klasik dengan tiang meruncing berbentuk ulir spiral. Inilah karakteristik desain Van der Pol dalam kehidupan sosial masyarakat pada masa itu.
Gaya desain pada tarikan pintu lemari merupakan simbol kemewahan pada jaman dahulu.
Anda dapat mengaplikasikannya di tempat-tempat favorit, terlebih pada rumah tinggal anda.
Perjalanan Panjang Meja Teh Bergaya Van der Pol...
Sebagai bagian dari sejarah, perabotan lama termasuk mebel dan tatanan interior di dalamnya, selama ini termasuk hal yang hanya menjadi minat segelintir orang.
Tiap perubahan jaman, desain dari furniture dapat berubah dan memiliki fungsi yang berbeda-beda. Meja teh bergaya Van der Pol ini mempunyai ukuran P.80 cm x L.47 cm x T.80 cm.
Disaat bangsa Eropa mulai membaur dengan masyarakat Hindia Belanda, kebudayaan Indies mulai tampak dengan adanya bentuk perabot yang mirip dengan gaya desain negara asal mereka.
Gaya desain tersebut tercipta dan lahir dari kerinduan para penguasa terhadap kampung halamannya. Desain yang dihasilkan tidak 100% sama seperti aslinya karena disesuaikan dengan iklim, tersedianya material dan penyesuaian dengan lingkungan alam sekitar di Hindia Belanda.
Walaupun tampak agak memaksa, namun mereka berhasil membuat beberapa modifikasi yang disesuaikan dengan gaya desain negara asal mereka.
Sungguh warisan masa lampau yang berharga, yang dahulu sempat prominen dimasanya. Konsep perabotan bergaya Van der Pol masih tetap menjadi alternatif desain yang tak lekang oleh waktu. Berminat memilikinya ?? SOLD OUT
Koleksi meja ini memiliki sejarah dalam yang berkembang dari kolonial Hindia Belanda yang memiliki latar belakang historis yang dipengaruhi oleh budaya Eropa masa lampau.
Jejak-jejak perabotan masa kolonial karakteristiknya yang kuat sebagai langgam yang mudah dikenal.
Bentuk kaki penopang meja berciri khas klasik dengan tiang meruncing berbentuk ulir spiral. Inilah karakteristik desain Van der Pol dalam kehidupan sosial masyarakat pada masa itu.
Gaya desain pada tarikan pintu lemari merupakan simbol kemewahan pada jaman dahulu.
Anda dapat mengaplikasikannya di tempat-tempat favorit, terlebih pada rumah tinggal anda.
Perjalanan Panjang Meja Teh Bergaya Van der Pol...
Sebagai bagian dari sejarah, perabotan lama termasuk mebel dan tatanan interior di dalamnya, selama ini termasuk hal yang hanya menjadi minat segelintir orang.
Tiap perubahan jaman, desain dari furniture dapat berubah dan memiliki fungsi yang berbeda-beda. Meja teh bergaya Van der Pol ini mempunyai ukuran P.80 cm x L.47 cm x T.80 cm.
Disaat bangsa Eropa mulai membaur dengan masyarakat Hindia Belanda, kebudayaan Indies mulai tampak dengan adanya bentuk perabot yang mirip dengan gaya desain negara asal mereka.
Gaya desain tersebut tercipta dan lahir dari kerinduan para penguasa terhadap kampung halamannya. Desain yang dihasilkan tidak 100% sama seperti aslinya karena disesuaikan dengan iklim, tersedianya material dan penyesuaian dengan lingkungan alam sekitar di Hindia Belanda.
Walaupun tampak agak memaksa, namun mereka berhasil membuat beberapa modifikasi yang disesuaikan dengan gaya desain negara asal mereka.
Sungguh warisan masa lampau yang berharga, yang dahulu sempat prominen dimasanya. Konsep perabotan bergaya Van der Pol masih tetap menjadi alternatif desain yang tak lekang oleh waktu. Berminat memilikinya ?? SOLD OUT
Kursi Nederlands Indie
Author: Kedai Barang Antik / Labels: Furniture Antik
Perabot ini merujuk pada kelas
masyarakat menengah atas, yang dahulu sempat prominen dimasanya.
Bentuknya yang elegan, telah membawa pengaruh dan kesan khusus bagi para
pemakai kursi-kursi tersebut.
Koleksi ini bahkan sudah hadir sejak negara ini masih berada di bawah pendudukan Belanda dan masih bernama Hindia Belanda, Nederlands Indie.
Kelangkaan, orisinilitas dan usianya yang lebih dari 100 tahun ini membuatnya semakin menarik.
Selain ergonomis, sudut kemiringan kursi menunjang kenyamanan.
Di zaman yang serbacanggih saat ini, kamera lawas atau jadoel tak pernah kehilangan pesonanya.
Pola geometris atau bunga ornamen sebuah sintesis dari budaya Timur dan Eropa.
Kayu tua memiliki patina indah dan terlihat benar-benar menakjubkan dalam originalitas.
Tekstur material dipertahankan seperti aslinya, menunjukkan proses alamiah yang terjadi pada perabotan tersebut.
Kayu jati masa lampau sangat kuat dan awet, serta tidak mudah berubah bentuk oleh perubahan cuaca.
Semakin tua usia kayu, warnanya akan semakin matang dan lama-kelamaan muncul patina atau tekstur kayu.
Gaya Kolonial Bercita Rasa Indonesia...
Jika dilihat secara keseluruhan, desain kursi bergaya Indische ini sangat jauh dari kesan simple.Semuanya serba detail, ribet dan mahal.
Tapi kenyataannya, hingga kini gaya Eropa tetap memiliki nilai yang lebih sekaligus nilai historis yang tak mungkin dimiliki oleh gaya lain. Kelebihan lain dari kapstok antik tersebut adalah bisa masuk dalam segala style desain interior.
Dalam perjalanan waktu koleksi kapstok masa lampau warisan kemewahan gaya kolonial seperti ini perlahan mulai jarang ditemui. Berminat memilikinya.?SOLD OUT
Koleksi ini bahkan sudah hadir sejak negara ini masih berada di bawah pendudukan Belanda dan masih bernama Hindia Belanda, Nederlands Indie.
Kelangkaan, orisinilitas dan usianya yang lebih dari 100 tahun ini membuatnya semakin menarik.
Selain ergonomis, sudut kemiringan kursi menunjang kenyamanan.
Di zaman yang serbacanggih saat ini, kamera lawas atau jadoel tak pernah kehilangan pesonanya.
Pola geometris atau bunga ornamen sebuah sintesis dari budaya Timur dan Eropa.
Kayu tua memiliki patina indah dan terlihat benar-benar menakjubkan dalam originalitas.
Tekstur material dipertahankan seperti aslinya, menunjukkan proses alamiah yang terjadi pada perabotan tersebut.
Kayu jati masa lampau sangat kuat dan awet, serta tidak mudah berubah bentuk oleh perubahan cuaca.
Semakin tua usia kayu, warnanya akan semakin matang dan lama-kelamaan muncul patina atau tekstur kayu.
Gaya Kolonial Bercita Rasa Indonesia...
Jika dilihat secara keseluruhan, desain kursi bergaya Indische ini sangat jauh dari kesan simple.Semuanya serba detail, ribet dan mahal.
Tapi kenyataannya, hingga kini gaya Eropa tetap memiliki nilai yang lebih sekaligus nilai historis yang tak mungkin dimiliki oleh gaya lain. Kelebihan lain dari kapstok antik tersebut adalah bisa masuk dalam segala style desain interior.
Dalam perjalanan waktu koleksi kapstok masa lampau warisan kemewahan gaya kolonial seperti ini perlahan mulai jarang ditemui. Berminat memilikinya.?SOLD OUT
Standing Meja Filter Air
Author: Kedai Barang Antik / Labels: Furniture Antik
Dengan beberapa pengaturan sudut
yang tepat, Anda akan mendapatkan sebuah penempatan pajangan yang dapat
dinikmati oleh setiap mata yang memandang.
Perabot ini merujuk pada kelas masyarakat menengah atas, yang dahulu sempat prominen dimasanya.
Tentu barang lama yang secara kualitas jelas tidak diproduksi sembarangan. Hingga kini, perabotan kuno semacam ini semakin menyusut drastis.
Orang Belanda sangat menguasai dan mencintai karya-karya pertukangan hingga pada detail-detailnya.
Gayanya yang rumit, namun terkadang menyimpan makna tinggi bagi setiap orang yang melihatnya.
Bentuk konstruksi meja berciri khas Indisch atau disebut gaya Indo-Eropa.
Kesan klasik dan bentuknya yang unik cocok digunakan pada ruangan dengan gaya interior apapun sebagai centerpoint yang memukau dalam tataan interior.
Perabot Tua, Kian Bernilai...
Jika dilihat secara keseluruhan, desain meja standing bergaya kolonial ini sangat jauh dari kesan simpel. Langgam gaya Indies sebagai perpaduan budaya Belanda dan Jawa ditampilkan lewat kualitas bahan kayu dan detail tekstur pengerjaannya.
Kajian tentang motif, pola, warna dan bahan ragam hias sebagai bagian dari kebudayaan pada masa kolonial terutama pada rumah tinggal yang mencerminkan jati diri pemiliknya.
Pernik peninggalan Dutch East Indies yang mempunyai ukuran P.41cm x L.42,5cm x T.82 cm ini menjadi "point of interest" di sudut ruang.
Usia dan desain antiknya, menjadi daya pikat tersendiri. Dengan menghadirkan home decoration atau pernak-pernik seperti ini, suasana rumah bisa lebih terasa sejuk, teduh enak dilihat. Mau ??
Perabot ini merujuk pada kelas masyarakat menengah atas, yang dahulu sempat prominen dimasanya.
Tentu barang lama yang secara kualitas jelas tidak diproduksi sembarangan. Hingga kini, perabotan kuno semacam ini semakin menyusut drastis.
Orang Belanda sangat menguasai dan mencintai karya-karya pertukangan hingga pada detail-detailnya.
Gayanya yang rumit, namun terkadang menyimpan makna tinggi bagi setiap orang yang melihatnya.
Bentuk konstruksi meja berciri khas Indisch atau disebut gaya Indo-Eropa.
Kesan klasik dan bentuknya yang unik cocok digunakan pada ruangan dengan gaya interior apapun sebagai centerpoint yang memukau dalam tataan interior.
Perabot Tua, Kian Bernilai...
Jika dilihat secara keseluruhan, desain meja standing bergaya kolonial ini sangat jauh dari kesan simpel. Langgam gaya Indies sebagai perpaduan budaya Belanda dan Jawa ditampilkan lewat kualitas bahan kayu dan detail tekstur pengerjaannya.
Kajian tentang motif, pola, warna dan bahan ragam hias sebagai bagian dari kebudayaan pada masa kolonial terutama pada rumah tinggal yang mencerminkan jati diri pemiliknya.
Pernik peninggalan Dutch East Indies yang mempunyai ukuran P.41cm x L.42,5cm x T.82 cm ini menjadi "point of interest" di sudut ruang.
Usia dan desain antiknya, menjadi daya pikat tersendiri. Dengan menghadirkan home decoration atau pernak-pernik seperti ini, suasana rumah bisa lebih terasa sejuk, teduh enak dilihat. Mau ??
Antique Wine Cabinet
Author: Kedai Barang Antik / Labels: Furniture Antik
Tak sekedar pajangan, meski renta barang ini menyimpan banyak cerita tentang gambaran Indonesia pada jamannya.
Kejujuran konstruksi, kekuatan garis, dan proporsi volume. Inilah karakteristik desain furniture dari era Dutch East Indies.
Nyatanya lemari peti yang mempunyai ukuran P.63 cm x L.50 cm x T.45 cm ini bertahan lama, melintasi pergantian rezim dan abad.
Dalam perjalanan waktu gaya perabotan seperti ini perlahan mulai jarang ditemui.
Selain kesempurnaan bentuk dan proporsi juga memiliki daya tahan tinggi terhadap suhu dan cuaca tropis Hindia Belanda.
Para Meneer Belanda memang punya perhatian pada iklim tropis dengan pemilihan perabot, dan ternyata menggemari minuman dingin.
Pada sisi lubang ini digunakan untuk tempat Ice bucket, yang disesuaikan dengan gaya desain negara asal mereka.
Tampak pada sisi kiri digunakan sebagai rak botol wine, yang dikontraskan dengan garis lurus.
Konstruksi penyangga pintu, Walaupun konvensional demikian kecermatan dan ketelitian tampak dengan standar keahlian tinggi.
Masih berfungsi sebagaimana mestinya, menciptakan kedalaman karakter.
Pola geometris atau bunga ornamen sebuah sintesis dari budaya Timur dan Eropa.
Kayu tua memiliki patina indah dan terlihat benar-benar menakjubkan dalam originalitas.
Garis Waktu Perabotan Indisch...
Hindia Belanda memang surga bagi para tuan dan nyonya Eropa karena semua telah tersedia dalam berbagai macam bentuknya. Mereka mendapatkan kemudahan dan juga membuat kehidupan mereka menjadi lebih santai dikarenakan pribumi yang terjajah.
Namun jika merunut sejarahnya, koleksi ini muncul saat nusantara sedang dalam masa penjajahan kolonial Belanda. Para Meneer Belanda memang punya perhatian pada iklim tropis dengan pemilihan perabot, dapat disimpulkan bahwa koleksi ini memang ditujukan untuk masyarakat kalangan menengah ke atas pada tahun 1920-an.
Tapi kenyataannya, hingga kini gaya Eropa tetap memiliki nilai yang lebih sekaligus nilai historis yang tak mungkin dimiliki oleh gaya lain. Kelebihan lain dari peti antik tersebut adalah bisa masuk dalam segala style desain interior. Mau ??
Kejujuran konstruksi, kekuatan garis, dan proporsi volume. Inilah karakteristik desain furniture dari era Dutch East Indies.
Nyatanya lemari peti yang mempunyai ukuran P.63 cm x L.50 cm x T.45 cm ini bertahan lama, melintasi pergantian rezim dan abad.
Dalam perjalanan waktu gaya perabotan seperti ini perlahan mulai jarang ditemui.
Selain kesempurnaan bentuk dan proporsi juga memiliki daya tahan tinggi terhadap suhu dan cuaca tropis Hindia Belanda.
Para Meneer Belanda memang punya perhatian pada iklim tropis dengan pemilihan perabot, dan ternyata menggemari minuman dingin.
Pada sisi lubang ini digunakan untuk tempat Ice bucket, yang disesuaikan dengan gaya desain negara asal mereka.
Tampak pada sisi kiri digunakan sebagai rak botol wine, yang dikontraskan dengan garis lurus.
Konstruksi penyangga pintu, Walaupun konvensional demikian kecermatan dan ketelitian tampak dengan standar keahlian tinggi.
Masih berfungsi sebagaimana mestinya, menciptakan kedalaman karakter.
Pola geometris atau bunga ornamen sebuah sintesis dari budaya Timur dan Eropa.
Kayu tua memiliki patina indah dan terlihat benar-benar menakjubkan dalam originalitas.
Garis Waktu Perabotan Indisch...
Hindia Belanda memang surga bagi para tuan dan nyonya Eropa karena semua telah tersedia dalam berbagai macam bentuknya. Mereka mendapatkan kemudahan dan juga membuat kehidupan mereka menjadi lebih santai dikarenakan pribumi yang terjajah.
Namun jika merunut sejarahnya, koleksi ini muncul saat nusantara sedang dalam masa penjajahan kolonial Belanda. Para Meneer Belanda memang punya perhatian pada iklim tropis dengan pemilihan perabot, dapat disimpulkan bahwa koleksi ini memang ditujukan untuk masyarakat kalangan menengah ke atas pada tahun 1920-an.
Tapi kenyataannya, hingga kini gaya Eropa tetap memiliki nilai yang lebih sekaligus nilai historis yang tak mungkin dimiliki oleh gaya lain. Kelebihan lain dari peti antik tersebut adalah bisa masuk dalam segala style desain interior. Mau ??
Pigura Dutch East Indies
Author: Kedai Barang Antik / Labels: Antik Oriental #2
Melalui koleksi yang mempunyai ukuran P.58 cm x L.38 cm ini kita seolah diajak berkelana ke masa silam, menguak kehidupan masyarakat Tionghoa Peranakan masa lampau. Eksotis !
Namun jika merunut sejarahnya, koleksi sepasang pigura kaca cembung ini muncul saat nusantara sedang dalam masa penjajahan kolonial Belanda.
Sepasang pigura masa lalu ini memperkuat kesan oriental dan terlihat glamour. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa koleksi ini memang ditujukan untuk masyarakat kalangan menengah ke atas.
Pengaruh Eropa dapat juga terlihat pada penggunaan motif dan ragam aplikasi warnanya. Kita bukan hanya menikmati aspek arkeologisnya, namun juga menciptakan sinergi unik untuk menarik perhatian.
Ternyata sentuhan motif kuno juga bisa menghadirkan citra mewah, usia dan desain antiknya menjadi daya pikat tersendiri.
Pigura Kaca Cembung : Eksotisme Gaya Oriental Di Bumi Nusantara...
Tidak dapat dilacak dengan pasti kapan pigura kayu potret diri ini dibuat, tapi diperkirakan sekitar tahun 1910 an. Pada masa itu pemerintah Belanda (Hindia Belanda) memberlakukan beberapa peraturan, yaitu Wijkenstelsel dan Passenstelsel.
Wijkenstelsel yaitu pemusatan permukiman komunitas Tionghoa dan etnik asing lainnya. Sementara peraturan Passenstelsel mengharuskan orang Tionghoa membawa kartu pas jalan jika mengadakan perjalanan keluar daerah.
Aturan Wijkenstelsel ini menciptakan pemukiman etnis Tionghoa atau pecinan di sejumlah kota besar di Hindia Belanda.
Kelengkapan aksesoris perabotan rumah tangga yang digunakan berbeda dari rakyat biasa sebagai manifestasi dari nilai-nilai budaya yang berlaku pada zaman itu. Dengan penempatan yang pas, sepasang pigura antik ini bisa tampil prima di tengah ruangan anda
Sepasang pigura masa lalu ini memperkuat kesan oriental dan terlihat glamour. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa koleksi ini memang ditujukan untuk masyarakat kalangan menengah ke atas. Tapi, sungguh, ketika pertama melihatnya saya seperti terlempar ke masa silam. Berminat ? SOLD OUT
Namun jika merunut sejarahnya, koleksi sepasang pigura kaca cembung ini muncul saat nusantara sedang dalam masa penjajahan kolonial Belanda.
Sepasang pigura masa lalu ini memperkuat kesan oriental dan terlihat glamour. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa koleksi ini memang ditujukan untuk masyarakat kalangan menengah ke atas.
Pengaruh Eropa dapat juga terlihat pada penggunaan motif dan ragam aplikasi warnanya. Kita bukan hanya menikmati aspek arkeologisnya, namun juga menciptakan sinergi unik untuk menarik perhatian.
Ternyata sentuhan motif kuno juga bisa menghadirkan citra mewah, usia dan desain antiknya menjadi daya pikat tersendiri.
Pigura Kaca Cembung : Eksotisme Gaya Oriental Di Bumi Nusantara...
Tidak dapat dilacak dengan pasti kapan pigura kayu potret diri ini dibuat, tapi diperkirakan sekitar tahun 1910 an. Pada masa itu pemerintah Belanda (Hindia Belanda) memberlakukan beberapa peraturan, yaitu Wijkenstelsel dan Passenstelsel.
Wijkenstelsel yaitu pemusatan permukiman komunitas Tionghoa dan etnik asing lainnya. Sementara peraturan Passenstelsel mengharuskan orang Tionghoa membawa kartu pas jalan jika mengadakan perjalanan keluar daerah.
Aturan Wijkenstelsel ini menciptakan pemukiman etnis Tionghoa atau pecinan di sejumlah kota besar di Hindia Belanda.
Kelengkapan aksesoris perabotan rumah tangga yang digunakan berbeda dari rakyat biasa sebagai manifestasi dari nilai-nilai budaya yang berlaku pada zaman itu. Dengan penempatan yang pas, sepasang pigura antik ini bisa tampil prima di tengah ruangan anda
Sepasang pigura masa lalu ini memperkuat kesan oriental dan terlihat glamour. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa koleksi ini memang ditujukan untuk masyarakat kalangan menengah ke atas. Tapi, sungguh, ketika pertama melihatnya saya seperti terlempar ke masa silam. Berminat ? SOLD OUT
Kursi Semarangan Indo-Eropa
Author: Kedai Barang Antik / Labels: Furniture Art Nouveau
Koleksi kursi bergaya Semarangan ini simpel dan kuat desainnya, banyak diterima oleh kalangan the have dan well-educated.
Kursi ukuran 51 cm x 43 cm (T.48 cm / 93 cm). Karakternya dianggap sempurna, maturity, bertahan lama dan klasik.
Material konstruksi bentuk lengkung yang digunakan adalah kayu jati bidang lebar dan kualitas baik pada masanya.
Banyak orang pula yang mengagumi konstruksi kursi kuno model ini, karena bahannya yang terbuat dari kayu jati solid, semuanya serba besar langsung tanpa sambungan.
Selain ergonomis, sudut kemiringan lengkung kursi menunjang kenyamanan. Sungguh menarik dan mengundang decak kagum.
Gaya Semarangan atau Art Nouveau kental dengan pengaruh Eropa, tak heran kalau seringkali terlihat mirip dengan gaya klasik.
Jika melihat kondisinya, perabotan Semarangan ini tampaknya barang warisan zaman turun temurun dan belum mau dipensiunkan.
Bahwa semua elemen pembentuk struktur kayu merupakan perwujudan gaya kolonial Belanda.
Kursi bergaya Semarangan ini merupakan barang yang sulit didapat, lebih unggul kualitas bahkan belum ada produk repro yang sejenis dibuat.
Menyusuri Jejak Kursi Semarangan...
Jika dicermati detail uliran mengular, lengkungan, garis-garis yang tegas, kompoisisi asimetrik serta pola yang berkelak-kelok pun menjadi ciri khas penandaan gaya ini.
Meski dianggap kuno dan ketinggalan zaman, namun pesonanya tetap memikat. Nuansa nostalgia pun terasa begitu kuat. Perabotan furniture masa lampau yang pernah menjadi ikon zaman tetap masih digemari.
Anda dapat mengaplikasikannya di tempat-tempat favorit, terlebih pada rumah tinggal anda. Bendera kolonial tak lagi berkibar, zaman boleh berganti, namun perabotan tua masih dibutuhkan dan digemari orang hingga abad ini. Mau ?? SOLD OUT
Kursi ukuran 51 cm x 43 cm (T.48 cm / 93 cm). Karakternya dianggap sempurna, maturity, bertahan lama dan klasik.
Material konstruksi bentuk lengkung yang digunakan adalah kayu jati bidang lebar dan kualitas baik pada masanya.
Banyak orang pula yang mengagumi konstruksi kursi kuno model ini, karena bahannya yang terbuat dari kayu jati solid, semuanya serba besar langsung tanpa sambungan.
Selain ergonomis, sudut kemiringan lengkung kursi menunjang kenyamanan. Sungguh menarik dan mengundang decak kagum.
Gaya Semarangan atau Art Nouveau kental dengan pengaruh Eropa, tak heran kalau seringkali terlihat mirip dengan gaya klasik.
Jika melihat kondisinya, perabotan Semarangan ini tampaknya barang warisan zaman turun temurun dan belum mau dipensiunkan.
Bahwa semua elemen pembentuk struktur kayu merupakan perwujudan gaya kolonial Belanda.
Kursi bergaya Semarangan ini merupakan barang yang sulit didapat, lebih unggul kualitas bahkan belum ada produk repro yang sejenis dibuat.
Menyusuri Jejak Kursi Semarangan...
Jika dicermati detail uliran mengular, lengkungan, garis-garis yang tegas, kompoisisi asimetrik serta pola yang berkelak-kelok pun menjadi ciri khas penandaan gaya ini.
Meski dianggap kuno dan ketinggalan zaman, namun pesonanya tetap memikat. Nuansa nostalgia pun terasa begitu kuat. Perabotan furniture masa lampau yang pernah menjadi ikon zaman tetap masih digemari.
Anda dapat mengaplikasikannya di tempat-tempat favorit, terlebih pada rumah tinggal anda. Bendera kolonial tak lagi berkibar, zaman boleh berganti, namun perabotan tua masih dibutuhkan dan digemari orang hingga abad ini. Mau ?? SOLD OUT
Kursi Tamu Dutch Colonial
Author: Kedai Barang Antik / Labels: Furniture Antik
Jika melihat desain, kursi 3 seater itu tampaknya barang sekitar dekade 1908 an. Berbahagialah jika anda masih menyimpan pernik langka ini.
Luar biasa rasanya, jika kita memiliki sebuah koleksi yang tidak berubah selama 100 tahun, rasanya seperti terlempar ke masa silam.
Perabot ini merujuk pada kelas masyarakat menengah atas, yang dahulu sempat prominen dimasanya.
Terkabar kursi jenis ini sudah ada sejak awal 1905-an, jadi bisa saja desain yang ini adalah versi kesekian.
Langgam gaya Indies memiliki latar belakang historis yang dipengaruhi oleh budaya Eropa sentris masa lampau.
Tekstur material dipertahankan seperti aslinya, menunjukkan proses alamiah yang terjadi pada perabotan tersebut.
Selain ergonomis, demikian kecermatan dan ketelitian pengerjaan menunjang kenyamanan.
Bentukan meja ini simetris dengan tepian meja yang berbentuk segi 8 dengan ukuran T.78,5 cm x diameter 105 cm.
Secara keseluruhan bentuk tiang penopang meja ini sangat kental nuansa kolonial masa lampau.
Bentuk kaki penopang meja berciri khas Indisch atau disebut gaya Indo-Eropa.
Meja mempunyai struktur permukaan datar dan dasar yang terdiri dari empat kaki sebagai penopangnya.
Biasanya dimimiliki oleh pejabat pemerintahan atau Asisten Residen pada masa kolonial. Dalam perjalanan waktu gaya perabotan seperti ini perlahan mulai jarang ditemui.
Jejak Rekam Furniture Bergaya Dutch Colonial...
Pada bangunan landhuis atau rumah tuan tanah berarsitektur Tionghoa dan Indisch kalangan berada,
umumnya kursi tamu set diletakan di teras depan rumah.
Kajian tentang motif, pola, warna dan bahan ragam hias sebagai bagian dari kebudayaan pada masa kolonial terutama pada rumah tinggal yang mencerminkan jati diri pemiliknya.
Koleksi ini memiliki latar belakang historis yang dipengaruhi oleh budaya Eropa masa lampau. Namun, setelah zaman kolonialisme Belanda berakhir di era 1930-an, kursi-kursi tersebut pun ikut punah dengan sendirinya.
Memiliki koleksi ini adalah impian setiap kolektor peninggalan Dutch East Indies. Kelangkaan, orisinilitas dan usianya yang lebih dari 100 tahun ini membuatnya semakin menarik. Sudah jarang khan melihat rak pajangan teras ala nyonya dan meneer Belanda yang semacam ini ??
Luar biasa rasanya, jika kita memiliki sebuah koleksi yang tidak berubah selama 100 tahun, rasanya seperti terlempar ke masa silam.
Perabot ini merujuk pada kelas masyarakat menengah atas, yang dahulu sempat prominen dimasanya.
Terkabar kursi jenis ini sudah ada sejak awal 1905-an, jadi bisa saja desain yang ini adalah versi kesekian.
Langgam gaya Indies memiliki latar belakang historis yang dipengaruhi oleh budaya Eropa sentris masa lampau.
Tekstur material dipertahankan seperti aslinya, menunjukkan proses alamiah yang terjadi pada perabotan tersebut.
Selain ergonomis, demikian kecermatan dan ketelitian pengerjaan menunjang kenyamanan.
Bentukan meja ini simetris dengan tepian meja yang berbentuk segi 8 dengan ukuran T.78,5 cm x diameter 105 cm.
Secara keseluruhan bentuk tiang penopang meja ini sangat kental nuansa kolonial masa lampau.
Bentuk kaki penopang meja berciri khas Indisch atau disebut gaya Indo-Eropa.
Meja mempunyai struktur permukaan datar dan dasar yang terdiri dari empat kaki sebagai penopangnya.
Biasanya dimimiliki oleh pejabat pemerintahan atau Asisten Residen pada masa kolonial. Dalam perjalanan waktu gaya perabotan seperti ini perlahan mulai jarang ditemui.
Jejak Rekam Furniture Bergaya Dutch Colonial...
Pada bangunan landhuis atau rumah tuan tanah berarsitektur Tionghoa dan Indisch kalangan berada,
umumnya kursi tamu set diletakan di teras depan rumah.
Kajian tentang motif, pola, warna dan bahan ragam hias sebagai bagian dari kebudayaan pada masa kolonial terutama pada rumah tinggal yang mencerminkan jati diri pemiliknya.
Koleksi ini memiliki latar belakang historis yang dipengaruhi oleh budaya Eropa masa lampau. Namun, setelah zaman kolonialisme Belanda berakhir di era 1930-an, kursi-kursi tersebut pun ikut punah dengan sendirinya.
Memiliki koleksi ini adalah impian setiap kolektor peninggalan Dutch East Indies. Kelangkaan, orisinilitas dan usianya yang lebih dari 100 tahun ini membuatnya semakin menarik. Sudah jarang khan melihat rak pajangan teras ala nyonya dan meneer Belanda yang semacam ini ??




























































Tidak ada komentar:
Posting Komentar