Secara visual ilustrasi, adanya
kemiripan bentuk dan konstruksi bangku. Jika melihat desain, bangku
studio foto itu tampaknya barang sekitar dekade 1930 an.
Usia dan desain uniknya, menjadi daya pikat tersendiri memberi gairah baru pada suasana tempo doeloe.
Tapi, sungguh, ketika pertama melihatnya saya seperti terlempar ke masa silam.
Kini, setelah kursi studio semacam ini tidak lagi ditemui, justru banyak orang memburunya.
Tekstur material dipertahankan seperti aslinya, menunjukkan proses alamiah yang terjadi pada perabotan tersebut.
Bangku Studio Foto Gaya Semarangan.....
Salah satu kelebihan bangku studio foto yang mempunyai ukuran P.53 cm x L.28 cm x T.85 cm ini terletak pada originalitasnya.
Sifat dan kelebihan material kayu diolah dengan keahlian yang sempurna, adalah wujud yang terlihat selain kejujuran konstruksi, kekuatan garis, dan proporsi volume.
Inilah karakteristik desain furniture dari era Dutch East Indies. Selain jenis kayu, menarik juga untuk dicermati bagaimana bangku studio foto bergaya Semarangan ini dibuat dengan rapi.
Ketegasan garis-garis struktur kayu itu sendiri sekaligus digunakan sebagai kekuatan visual artistiknya. Bahwa semua elemen pembentuk struktur kayu merupakan perwujudan gaya kolonial Belanda.
Namun membayangkan bagaimana situasi masa lalu dalam foto-foto dan kartu pos tidak hanya menunjukkan imajinasi popular kelas elit kolonial, tapi juga dapat memaparkan praktik studio komersial pada masa itu saya langsung hanyut dalam romantisme zaman kolonial. Mau ??
Usia dan desain uniknya, menjadi daya pikat tersendiri memberi gairah baru pada suasana tempo doeloe.
Tapi, sungguh, ketika pertama melihatnya saya seperti terlempar ke masa silam.
Kini, setelah kursi studio semacam ini tidak lagi ditemui, justru banyak orang memburunya.
Tekstur material dipertahankan seperti aslinya, menunjukkan proses alamiah yang terjadi pada perabotan tersebut.
Bangku Studio Foto Gaya Semarangan.....
Salah satu kelebihan bangku studio foto yang mempunyai ukuran P.53 cm x L.28 cm x T.85 cm ini terletak pada originalitasnya.
Sifat dan kelebihan material kayu diolah dengan keahlian yang sempurna, adalah wujud yang terlihat selain kejujuran konstruksi, kekuatan garis, dan proporsi volume.
Inilah karakteristik desain furniture dari era Dutch East Indies. Selain jenis kayu, menarik juga untuk dicermati bagaimana bangku studio foto bergaya Semarangan ini dibuat dengan rapi.
Ketegasan garis-garis struktur kayu itu sendiri sekaligus digunakan sebagai kekuatan visual artistiknya. Bahwa semua elemen pembentuk struktur kayu merupakan perwujudan gaya kolonial Belanda.
Namun membayangkan bagaimana situasi masa lalu dalam foto-foto dan kartu pos tidak hanya menunjukkan imajinasi popular kelas elit kolonial, tapi juga dapat memaparkan praktik studio komersial pada masa itu saya langsung hanyut dalam romantisme zaman kolonial. Mau ??
Standing Pot Art Nouveau
Author: Kedai Barang Antik / Labels: Furniture Art Nouveau
Perabotan kayu masa lalu memiliki kelebihan. Itu tercermin dari bentuk-bentuk desain detail elemen serta aplikasi warnanya.
Standing pot antik ini menarik sebagai koleksi, masih cantik untuk ditampilkan dan menjadi "point of interest" di sudut ruang.
Kombinasi konvensional dan kontemporer. Makin unik makin menarik.
Standing pot antik juga berfungsi sebagai pelengkap interior ruangan yang bersifat dekoratif.
Identifikasi visual berupa bentuk-bentuk organis pada 4 sisi, garis tumbuhan, dan garis liuk yang feminim.
Eksotika Perabot Semarangan...
Terminologi Art Nouveau konsepnya kembali kepada alam, karena keindahan yang sempurna itu ada pada bentukan-bentukan alam.
Gaya Semarangan atau Art Nouveau, demikian kita sering menyebutnya, mempunyai ukuran T.74,5 cm (marmer doff 23,5 cm persegi).
Di saat tren minimalis sedang digandrungi masyarakat kota, konsep perabotan bergaya Art Nouveau masih tetap menjadi alternatif desain yang tak lekang dimakan waktu. Mau ?? SOLD OUT
Standing pot antik ini menarik sebagai koleksi, masih cantik untuk ditampilkan dan menjadi "point of interest" di sudut ruang.
Kombinasi konvensional dan kontemporer. Makin unik makin menarik.
Standing pot antik juga berfungsi sebagai pelengkap interior ruangan yang bersifat dekoratif.
Identifikasi visual berupa bentuk-bentuk organis pada 4 sisi, garis tumbuhan, dan garis liuk yang feminim.
Eksotika Perabot Semarangan...
Terminologi Art Nouveau konsepnya kembali kepada alam, karena keindahan yang sempurna itu ada pada bentukan-bentukan alam.
Gaya Semarangan atau Art Nouveau, demikian kita sering menyebutnya, mempunyai ukuran T.74,5 cm (marmer doff 23,5 cm persegi).
Di saat tren minimalis sedang digandrungi masyarakat kota, konsep perabotan bergaya Art Nouveau masih tetap menjadi alternatif desain yang tak lekang dimakan waktu. Mau ?? SOLD OUT
Reklame Goudsmeden (Tukang Emas)
Author: Kedai Barang Antik / Labels: Indonesian Heritage
Gaya desain dari reklame Goudsmeden (tukang emas) dalam bentuk secara visual terpengaruh “Hollandsch denken en Hollandsch inzicht” (berfikir dan berpandangan ala Belanda).
Memperlihatkan kesederhanaan teknik desain grafis pada masa lalu, tapi juga mencerminkan kesederhanaan gaya hidup dan cara berpikir masyarakat tempo doeloe.
Ukuran reklame P.44 cm x L.28 cm, jika dilihat dari penataan tipografi huruf, seimbang dan memiliki kerterbacaan yang jelas.
Tak sempat terpikirkan sebenarnya plat papan nama tersebut merupakan salah satu karya desain komunikasi visual. Di dalamnya merepresentasikan nilai kreativitas dan terkandung berbagai unsur estetika, seperti: tipografi, promosi, komposisi, warna, dan lainnya.
Jejak Sejarah Toekang Emas...
Barangkali tidak semua warga kota Semarang mengenal nama Kampung Ngabangan. Jauh sebelum orang-orang Eropa menduduki kota Semarang, dinamika ekonomi kota ini telah digerakkan oleh sektor industri rumah tangga yang diselenggarakan secara mandiri oleh rakyat.
Beberapa nama kampung yang unik di kota Semarang sebagian terkait erat dengan profesi masyarakat
setempat, yang salah satunya berkaitan dengan aktivitas industri rumah tangga.
Lahirnya nama-nama kampung tersebut berhubungan dengan kebiasaan orang Jawa yang dengan gampang menamai suatu tempat dengan menggunakan nama orang, nama pohon, nama kejadian, atau nama aktivitas yang melekat dengan kampung yang dimaksud.
Profesi rakyat, sebagian besar terkait erat dengan industri rumah tangga, yang identik dengan kampung-kampung (toponim) di kota Semarang sebagai berikut:
Kp.Bustaman (nama seorang kyai bernama Bustaman), Kp.Batik (tempat perajin batik), Kp.Leduwi (dahulu daerah milik tuan Lodewijk) Kp.Kulitan (tempat pengusaha kulit), Kp.Baterman (dahulu daerah milik tuan Batermann), Kp.Petudungan (dahulu daerah ini banyak penjual tudung atau caping), dll.
Layaknya sebuah aktifitas manusia pada masa lalu, tentu saja meninggalkan jejak, " H.M.SAMAN - TOEKANG MAS KP.NGABANGAN No.85 " Masyarakat Bumiputra yang ditandai dengan besarnya orang-orang yang bekerja pada sektor jasa adalah H.M.SAMAN berprofesi sebagai Goudsmeden (tukang emas) menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat pada masa itu.
Kepiawaiannya dalam membuat barang-barang emas diperhitungkan oleh masyarakat di daerah sekitarnya. Lingkungan pemukiman Kp.Ngabangan merupakan kawasan yang merasakan dampak langsung dari meningkatnya perkembangan Pasar Johar pada masa itu.
Tidak ada data yang pasti berapa tenaga kerja yang terserap dalam berbagai aktivitas industri dan perdagangan yang dikelola oleh rakyat itu.
Sebagian besar industri rakyat mengalami kebangkrutan yang disebabkan masuknya modal asing yang besar. Investasi besar-besaran di sektor industri telah menciptakan industri berskala besar dengan peralatan yang serba modern, yang mampu menghasilkan barang-barang dalam jumlah masal.
Sebelumnya pengrajin merupakan tulang punggung bagi pengusaha emas. Diibaratkan, pengrajin perhiasan merupakan mesin produksi bagi pengusaha perhiasan emas. Dahulu, juragan emas (toko emas) banyak memakai jasa pengrajin untuk membuat perhiasan.
Kampung Ngabangan, namun kemungkinan besar masyarakat kota Semarang sudah tidak tahu lagi bahwa nama kampung tersebut terkait dengan aktivitas rakyat kota ini pada masa lalu.
Banyak diantara kita, yang warga kota Semarang atau yang pernah tinggal di kota Semarang, terutama yang berusia di atas 40 tahunan akan terkenang dengan reklame papan nama ini. Yah, itulah romantisme masa lalu... mengingatkan pada masa penuh dengan kesederhanaan kearifan lokal. Mau ?? SOLD OUT
Memperlihatkan kesederhanaan teknik desain grafis pada masa lalu, tapi juga mencerminkan kesederhanaan gaya hidup dan cara berpikir masyarakat tempo doeloe.
Ukuran reklame P.44 cm x L.28 cm, jika dilihat dari penataan tipografi huruf, seimbang dan memiliki kerterbacaan yang jelas.
Tak sempat terpikirkan sebenarnya plat papan nama tersebut merupakan salah satu karya desain komunikasi visual. Di dalamnya merepresentasikan nilai kreativitas dan terkandung berbagai unsur estetika, seperti: tipografi, promosi, komposisi, warna, dan lainnya.
Jejak Sejarah Toekang Emas...
Barangkali tidak semua warga kota Semarang mengenal nama Kampung Ngabangan. Jauh sebelum orang-orang Eropa menduduki kota Semarang, dinamika ekonomi kota ini telah digerakkan oleh sektor industri rumah tangga yang diselenggarakan secara mandiri oleh rakyat.
Beberapa nama kampung yang unik di kota Semarang sebagian terkait erat dengan profesi masyarakat
setempat, yang salah satunya berkaitan dengan aktivitas industri rumah tangga.
Lahirnya nama-nama kampung tersebut berhubungan dengan kebiasaan orang Jawa yang dengan gampang menamai suatu tempat dengan menggunakan nama orang, nama pohon, nama kejadian, atau nama aktivitas yang melekat dengan kampung yang dimaksud.
Profesi rakyat, sebagian besar terkait erat dengan industri rumah tangga, yang identik dengan kampung-kampung (toponim) di kota Semarang sebagai berikut:
Kp.Bustaman (nama seorang kyai bernama Bustaman), Kp.Batik (tempat perajin batik), Kp.Leduwi (dahulu daerah milik tuan Lodewijk) Kp.Kulitan (tempat pengusaha kulit), Kp.Baterman (dahulu daerah milik tuan Batermann), Kp.Petudungan (dahulu daerah ini banyak penjual tudung atau caping), dll.
Layaknya sebuah aktifitas manusia pada masa lalu, tentu saja meninggalkan jejak, " H.M.SAMAN - TOEKANG MAS KP.NGABANGAN No.85 " Masyarakat Bumiputra yang ditandai dengan besarnya orang-orang yang bekerja pada sektor jasa adalah H.M.SAMAN berprofesi sebagai Goudsmeden (tukang emas) menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat pada masa itu.
Kepiawaiannya dalam membuat barang-barang emas diperhitungkan oleh masyarakat di daerah sekitarnya. Lingkungan pemukiman Kp.Ngabangan merupakan kawasan yang merasakan dampak langsung dari meningkatnya perkembangan Pasar Johar pada masa itu.
Tidak ada data yang pasti berapa tenaga kerja yang terserap dalam berbagai aktivitas industri dan perdagangan yang dikelola oleh rakyat itu.
Sebagian besar industri rakyat mengalami kebangkrutan yang disebabkan masuknya modal asing yang besar. Investasi besar-besaran di sektor industri telah menciptakan industri berskala besar dengan peralatan yang serba modern, yang mampu menghasilkan barang-barang dalam jumlah masal.
Sebelumnya pengrajin merupakan tulang punggung bagi pengusaha emas. Diibaratkan, pengrajin perhiasan merupakan mesin produksi bagi pengusaha perhiasan emas. Dahulu, juragan emas (toko emas) banyak memakai jasa pengrajin untuk membuat perhiasan.
Kampung Ngabangan, namun kemungkinan besar masyarakat kota Semarang sudah tidak tahu lagi bahwa nama kampung tersebut terkait dengan aktivitas rakyat kota ini pada masa lalu.
Banyak diantara kita, yang warga kota Semarang atau yang pernah tinggal di kota Semarang, terutama yang berusia di atas 40 tahunan akan terkenang dengan reklame papan nama ini. Yah, itulah romantisme masa lalu... mengingatkan pada masa penuh dengan kesederhanaan kearifan lokal. Mau ?? SOLD OUT
Meja Kenap Vorstenlanden
Author: Kedai Barang Antik / Labels: Furniture Antik
Biasanya dimimiliki oleh pejabat pemerintahan atau Asisten Residen pada masa kolonial.
Dalam perjalanan waktu gaya perabotan seperti ini perlahan mulai jarang ditemui.
Bentuk konstruksi meja berciri khas Indisch atau disebut gaya Indo-Eropa.
Meja mempunyai struktur permukaan datar dan dasar yang terdiri dari 3 kaki bergaya Perancis abad pertengahan sebagai penopangnya.
Walau meja kenap ini dibuat lebih dari 100 tahun yang lampau dengan cita rasa Eropa, namun masih sangat kokoh hingga masa kini.
Perabot ini merujuk pada kelas masyarakat menengah atas, yang dahulu sempat prominen dimasanya.
Gayanya yang rumit, namun terkadang menyimpan makna tinggi bagi setiap orang yang melihatnya.
Memanfaatkan kualitas kayu jati solid bidang lebar dan besar, memperlihatkan aspek seni ukir menunjukkan imajinasi popular kelas elit kolonial.
Tampak alas marmer lamat-lamat menunjukkan proses alamiah yang terjadi pada perabotan tersebut cap (SAMA)..RANG yang masa lalu dipesan khusus untuk penguasa wilayah.
Meja Kenap Asisten Residen Riwayatmu Kini...
Ada yang istimewa dengan koleksi sebuah meja kenap era kolonial yang mempunyai ukuran T.68 cm dan alas marmer bundar diameter 52 cm persegi ini.
Langgam gaya Indies sebagai perpaduan budaya Belanda dan Jawa juga terjalin dalam ornamen. Usia dan desain antiknya, menjadi daya pikat tersendiri.
Secara keseluruhan bentuk bidang konstruksi bundar meja, lengkungan kaki meja dan ukiran motif organik yang cukup rumit ini sangat kental nuansa kolonial.
Biasanya dimimiliki oleh pejabat pemerintahan atau asisten residen pada masa kolonial. Di lingkungan priyayi baru, dan pegawai pemerintah bumiputera yang mendapat didikan Belanda merasa status sosialnya lebih tinggi dari pada masyarakat biasa.
Tapi kenyataannya, hingga kini gaya Eropa tetap memiliki nilai yang lebih sekaligus nilai historis yang tak mungkin dimiliki oleh gaya lain. Kelebihan lain dari meja kenap antik tersebut adalah bisa masuk dalam segala style desain interior. Mau ??
Dalam perjalanan waktu gaya perabotan seperti ini perlahan mulai jarang ditemui.
Bentuk konstruksi meja berciri khas Indisch atau disebut gaya Indo-Eropa.
Meja mempunyai struktur permukaan datar dan dasar yang terdiri dari 3 kaki bergaya Perancis abad pertengahan sebagai penopangnya.
Walau meja kenap ini dibuat lebih dari 100 tahun yang lampau dengan cita rasa Eropa, namun masih sangat kokoh hingga masa kini.
Perabot ini merujuk pada kelas masyarakat menengah atas, yang dahulu sempat prominen dimasanya.
Gayanya yang rumit, namun terkadang menyimpan makna tinggi bagi setiap orang yang melihatnya.
Memanfaatkan kualitas kayu jati solid bidang lebar dan besar, memperlihatkan aspek seni ukir menunjukkan imajinasi popular kelas elit kolonial.
Tampak alas marmer lamat-lamat menunjukkan proses alamiah yang terjadi pada perabotan tersebut cap (SAMA)..RANG yang masa lalu dipesan khusus untuk penguasa wilayah.
Meja Kenap Asisten Residen Riwayatmu Kini...
Ada yang istimewa dengan koleksi sebuah meja kenap era kolonial yang mempunyai ukuran T.68 cm dan alas marmer bundar diameter 52 cm persegi ini.
Langgam gaya Indies sebagai perpaduan budaya Belanda dan Jawa juga terjalin dalam ornamen. Usia dan desain antiknya, menjadi daya pikat tersendiri.
Secara keseluruhan bentuk bidang konstruksi bundar meja, lengkungan kaki meja dan ukiran motif organik yang cukup rumit ini sangat kental nuansa kolonial.
Biasanya dimimiliki oleh pejabat pemerintahan atau asisten residen pada masa kolonial. Di lingkungan priyayi baru, dan pegawai pemerintah bumiputera yang mendapat didikan Belanda merasa status sosialnya lebih tinggi dari pada masyarakat biasa.
Tapi kenyataannya, hingga kini gaya Eropa tetap memiliki nilai yang lebih sekaligus nilai historis yang tak mungkin dimiliki oleh gaya lain. Kelebihan lain dari meja kenap antik tersebut adalah bisa masuk dalam segala style desain interior. Mau ??
Meja Kursi Raffles
Author: Kedai Barang Antik / Labels: Furniture Antik
Perabotan bergaya Raffles termasuk jenis yang paling terkenal dari perabot kolonial abad ke-19. Pada masa ini, orang juga menggunakan trend perabot masa Sir Thomas Stamford Raffles berkuasa.
Kesan klasik dan bentuknya yang unik cocok digunakan pada ruangan dengan gaya interior apapun sebagai centerpoint yang memukau dalam tataan interior.
Inilah koleksi meja silet (T.65 centimeter) peninggalan sejarah kolonial di Indonesia, dengan segala keunikan, romantisme dan eksotisme masa lampau.
Ukuran marmer silet P.100 cm x L.60 cm itu kini terbilang langka dan susah ditemukan, nampaknya belum mau dipensiunkan.
Kayu tua memiliki patina indah dan terlihat benar-benar menakjubkan dalam originalitas.
Karakteristik furniture kolonial kayu yang biasa digunakan adalah kayu jati dengan finishing politur dengan warna pastel warna hangat atau warna alami.
Jika dilihat secara keseluruhan, konstruksi meja silet bergaya Sheraton ini sangat jauh dari kesan simple. Bidang kayu jati lengkung serba besar, detail, ribet dan mahal.
Tekstur material dipertahankan seperti aslinya, meskipun kasar namun menunjukkan proses alamiah yang terjadi pada perabotan tersebut.
Tidak hanya secara fisik dan visual semata, namun menjadi refleksi zaman yang masih tampak indah hingga sekarang.
Material yang digunakan adalah kayu jati, pada sandaran dan dudukan kursi lebar 55 cm ini terdapat anyaman rotan.
Kayu jati masa lampau sangat kuat dan awet, serta tidak mudah berubah bentuk oleh perubahan cuaca.
Pola geometris atau bunga ornamen sebuah sintesis dari budaya Timur dan Eropa.
Secara keseluruhan bentuk sandaran tangan kursi ini sangat kental nuansa kolonial masa lampau.
Tinggi kaki sampai dudukan kursi 38 cm. Semakin tua usia kayu, warnanya akan semakin matang dan lama-kelamaan muncul patina atau tekstur kayu.
Meja Kursi ala Tuan dan Nyonya Belanda....
Sekian lama dijajah oleh Belanda, meninggalkan jejak yang tak pernah hilang, sampai sekarang. Salah satunya pada desain perabotan interior dan arsitektur. Gaya kolonial, demikian kita sering menyebutnya.
Perabotan bergaya Raffles termasuk jenis yang paling terkenal dari perabot kolonial abad ke-19. Pada masa ini, orang juga menggunakan trend perabot masa Sir Thomas Stamford Raffles berkuasa.
Gaya perabot ini sebenarnya termasuk tipe Sheraton yang berkembang di Inggris. Namun, karena nama Raffles lebih dikenal di Jawa, maka lebih dikenal dengan sebutan perabotan bergaya Raffles.
Kursi dan meja silet antik ini memiliki gaya desain Batavia pada abad ke 18 dimana gaya desain Batavia ini merupakan original dari Eropa, jadi bisa disebut sebagai gaya desain kolonial yang masuk ke Indonesia.
Para Meneer Belanda memang punya perhatian pada iklim tropis dengan pemilihan perabot, dapat disimpulkan bahwa koleksi ini memang ditujukan untuk masyarakat kalangan menengah ke atas pada tahun 1910-an.
Koleksi perabotan rumah tangga golongan menengah di beberapa kota besar yang pada waktu itu jumlahnya sangat terbatas. Tentu barang lama yang secara kualitas jelas tidak diproduksi sembarangan. Hingga kini, perabotan kuno semacam ini semakin menyusut drastis. Mau ?
Kesan klasik dan bentuknya yang unik cocok digunakan pada ruangan dengan gaya interior apapun sebagai centerpoint yang memukau dalam tataan interior.
Inilah koleksi meja silet (T.65 centimeter) peninggalan sejarah kolonial di Indonesia, dengan segala keunikan, romantisme dan eksotisme masa lampau.
Ukuran marmer silet P.100 cm x L.60 cm itu kini terbilang langka dan susah ditemukan, nampaknya belum mau dipensiunkan.
Kayu tua memiliki patina indah dan terlihat benar-benar menakjubkan dalam originalitas.
Karakteristik furniture kolonial kayu yang biasa digunakan adalah kayu jati dengan finishing politur dengan warna pastel warna hangat atau warna alami.
Jika dilihat secara keseluruhan, konstruksi meja silet bergaya Sheraton ini sangat jauh dari kesan simple. Bidang kayu jati lengkung serba besar, detail, ribet dan mahal.
Tekstur material dipertahankan seperti aslinya, meskipun kasar namun menunjukkan proses alamiah yang terjadi pada perabotan tersebut.
Tidak hanya secara fisik dan visual semata, namun menjadi refleksi zaman yang masih tampak indah hingga sekarang.
Material yang digunakan adalah kayu jati, pada sandaran dan dudukan kursi lebar 55 cm ini terdapat anyaman rotan.
Kayu jati masa lampau sangat kuat dan awet, serta tidak mudah berubah bentuk oleh perubahan cuaca.
Pola geometris atau bunga ornamen sebuah sintesis dari budaya Timur dan Eropa.
Secara keseluruhan bentuk sandaran tangan kursi ini sangat kental nuansa kolonial masa lampau.
Tinggi kaki sampai dudukan kursi 38 cm. Semakin tua usia kayu, warnanya akan semakin matang dan lama-kelamaan muncul patina atau tekstur kayu.
Meja Kursi ala Tuan dan Nyonya Belanda....
Sekian lama dijajah oleh Belanda, meninggalkan jejak yang tak pernah hilang, sampai sekarang. Salah satunya pada desain perabotan interior dan arsitektur. Gaya kolonial, demikian kita sering menyebutnya.
Perabotan bergaya Raffles termasuk jenis yang paling terkenal dari perabot kolonial abad ke-19. Pada masa ini, orang juga menggunakan trend perabot masa Sir Thomas Stamford Raffles berkuasa.
Gaya perabot ini sebenarnya termasuk tipe Sheraton yang berkembang di Inggris. Namun, karena nama Raffles lebih dikenal di Jawa, maka lebih dikenal dengan sebutan perabotan bergaya Raffles.
Kursi dan meja silet antik ini memiliki gaya desain Batavia pada abad ke 18 dimana gaya desain Batavia ini merupakan original dari Eropa, jadi bisa disebut sebagai gaya desain kolonial yang masuk ke Indonesia.
Para Meneer Belanda memang punya perhatian pada iklim tropis dengan pemilihan perabot, dapat disimpulkan bahwa koleksi ini memang ditujukan untuk masyarakat kalangan menengah ke atas pada tahun 1910-an.
Koleksi perabotan rumah tangga golongan menengah di beberapa kota besar yang pada waktu itu jumlahnya sangat terbatas. Tentu barang lama yang secara kualitas jelas tidak diproduksi sembarangan. Hingga kini, perabotan kuno semacam ini semakin menyusut drastis. Mau ?
Bosscha Tea Table
Author: Kedai Barang Antik / Labels: Furniture Antik
Perabotan bergaya Bosscha termasuk
jenis yang paling terkenal dari perabot kolonial awal abad ke-20. Pada
masa ini, orang juga menggunakan trend perabot masa Karel Albert Rudolf Bosscha berkuasa.
Meja mempunyai struktur permukaan datar dan dasar yang terdiri dari empat kaki bergaya Bosscha sebagai penopangnya.
Langgam gaya Indies sebagai perpaduan budaya Belanda dan Jawa. Kroketjes dan teh rempah hangat mengepul pun jadi teman yang pas, ini akan memberikan semangat baru ke dalam diri anda, apalagi saat anda sedang penat.
Terdapat ukiran yang cukup rumit berupa ukiran tumbuhan ragam hias corak Majapahit, elegan menarik perhatian dan nampak mewah.
Gaya desain pada tarikan pintu lemari merupakan simbol kemewahan pada jaman dahulu.
Lindeteves Stokvis - Tjap Kerbau tergolong kunci yang memiliki reputasi baik dan sulit dicari.
Bentukan meja ini simetris dengan tepian meja yang dihiasi oleh ukiran tanaman.
Bentuk kaki penopang meja berciri khas Indisch atau disebut gaya Indo-Eropa.
Orang Belanda sangat menguasai dan mencintai karya-karya pertukangan hingga pada detail-detailnya.
Pola lengkung ragam kurva seringkali terlihat mirip dengan gaya klasik.
Perjalanan Panjang Meja Teh Bergaya Bosscha...
Sebagai bagian dari sejarah, perabotan lama termasuk mebel dan tatanan interior di dalamnya, selama ini termasuk hal yang hanya menjadi minat segelintir orang.
Tiap perubahan jaman, desain dari furniture dapat berubah dan memiliki fungsi yang berbeda-beda. Meja teh bergaya Bosscha ini mempunyai ukuran P.80 cm x L.50 cm x T.97 cm.
Disaat bangsa Eropa mulai membaur dengan masyarakat Hindia Belanda, kebudayaan Indies mulai tampak dengan adanya bentuk perabot yang miripdengan gaya desain negara asal mereka.
Gaya desain tersebut tercipta dan lahir dari kerinduan para penguasa terhadap kampung halamannya. Desain yang dihasilkan tidak 100% sama seperti aslinya karena disesuaikan dengan iklim, tersedianya material dan penyesuaian dengan lingkungan alam sekitar di Hindia Belanda.
Walaupun tampak agak memaksa, namun mereka berhasil membuat beberapa modifikasi yang disesuaikan dengan gaya desain negara asal mereka.
Sungguh warisan masa lampau yang berharga, yang dahulu sempat prominen dimasanya. Konsep perabotan bergaya Bosscha masih tetap menjadi alternatif desain yang tak lekang oleh waktu. Berminat memilikinya ?? SOLD OUT
Meja mempunyai struktur permukaan datar dan dasar yang terdiri dari empat kaki bergaya Bosscha sebagai penopangnya.
Langgam gaya Indies sebagai perpaduan budaya Belanda dan Jawa. Kroketjes dan teh rempah hangat mengepul pun jadi teman yang pas, ini akan memberikan semangat baru ke dalam diri anda, apalagi saat anda sedang penat.
Terdapat ukiran yang cukup rumit berupa ukiran tumbuhan ragam hias corak Majapahit, elegan menarik perhatian dan nampak mewah.
Gaya desain pada tarikan pintu lemari merupakan simbol kemewahan pada jaman dahulu.
Lindeteves Stokvis - Tjap Kerbau tergolong kunci yang memiliki reputasi baik dan sulit dicari.
Bentukan meja ini simetris dengan tepian meja yang dihiasi oleh ukiran tanaman.
Bentuk kaki penopang meja berciri khas Indisch atau disebut gaya Indo-Eropa.
Orang Belanda sangat menguasai dan mencintai karya-karya pertukangan hingga pada detail-detailnya.
Pola lengkung ragam kurva seringkali terlihat mirip dengan gaya klasik.
Perjalanan Panjang Meja Teh Bergaya Bosscha...
Sebagai bagian dari sejarah, perabotan lama termasuk mebel dan tatanan interior di dalamnya, selama ini termasuk hal yang hanya menjadi minat segelintir orang.
Tiap perubahan jaman, desain dari furniture dapat berubah dan memiliki fungsi yang berbeda-beda. Meja teh bergaya Bosscha ini mempunyai ukuran P.80 cm x L.50 cm x T.97 cm.
Disaat bangsa Eropa mulai membaur dengan masyarakat Hindia Belanda, kebudayaan Indies mulai tampak dengan adanya bentuk perabot yang miripdengan gaya desain negara asal mereka.
Gaya desain tersebut tercipta dan lahir dari kerinduan para penguasa terhadap kampung halamannya. Desain yang dihasilkan tidak 100% sama seperti aslinya karena disesuaikan dengan iklim, tersedianya material dan penyesuaian dengan lingkungan alam sekitar di Hindia Belanda.
Walaupun tampak agak memaksa, namun mereka berhasil membuat beberapa modifikasi yang disesuaikan dengan gaya desain negara asal mereka.
Sungguh warisan masa lampau yang berharga, yang dahulu sempat prominen dimasanya. Konsep perabotan bergaya Bosscha masih tetap menjadi alternatif desain yang tak lekang oleh waktu. Berminat memilikinya ?? SOLD OUT
Meja Art Nouveau
Author: Kedai Barang Antik / Labels: Furniture Art Nouveau
Cantik dan berkarakter atas dasar inilah meja bergaya Semarangan ini menjadi barang yang paling diminati kolektor.
Identifikasi visual berupa bentuk-bentuk organis, garis tumbuhan, dan garis liuk yang feminim.
Perabotan bergaya Art Nouveau kuno menjadi "point of interest" di sudut ruang.
Menggunakan garis-garis lengkung dan pola-pola organik seperti tumbuhan.
Marmernya pun masih tampak kokoh dan mantap, walau usianya tergolong renta.
Dengan ciri bentuk yang tegas, elemen lengkung yang dikontraskan dengan garis lurus serta tetap dapat dijadikan sebagai bukti jejak kejayaan yang mewakili lapisan sejarahnya.
Sebuah Jejak Perabotan Semarangan...
Mempunyai ukuran P.52 cm x L. 42 cm x T. 76 cm dan detail ukiran ulur-sulur mengular, lengkungan, garis-garis organik yang tegas, kompoisisi asimetrik serta pola yang berkelak-kelok pun menjadi ciri khas penandaan gaya ini.
Meski dianggap kuno dan ketinggalan zaman, namun pesonanya tetap memikat. Nuansa nostalgia pun terasa begitu kuat. Dengan falsafah keseimbangan antara seni dan alam kekayaan sekitarnya, Art Nouveau menggoreskan garis dan pola rancangan yang mengalir alami.
Perabotan furniture masa lampau yang pernah menjadi ikon zaman tetap masih digemari. Anda dapat mengaplikasikannya di tempat-tempat favorit, terlebih pada rumah tinggal anda. Mau ? SOLD OUT
Identifikasi visual berupa bentuk-bentuk organis, garis tumbuhan, dan garis liuk yang feminim.
Perabotan bergaya Art Nouveau kuno menjadi "point of interest" di sudut ruang.
Menggunakan garis-garis lengkung dan pola-pola organik seperti tumbuhan.
Marmernya pun masih tampak kokoh dan mantap, walau usianya tergolong renta.
Dengan ciri bentuk yang tegas, elemen lengkung yang dikontraskan dengan garis lurus serta tetap dapat dijadikan sebagai bukti jejak kejayaan yang mewakili lapisan sejarahnya.
Sebuah Jejak Perabotan Semarangan...
Mempunyai ukuran P.52 cm x L. 42 cm x T. 76 cm dan detail ukiran ulur-sulur mengular, lengkungan, garis-garis organik yang tegas, kompoisisi asimetrik serta pola yang berkelak-kelok pun menjadi ciri khas penandaan gaya ini.
Meski dianggap kuno dan ketinggalan zaman, namun pesonanya tetap memikat. Nuansa nostalgia pun terasa begitu kuat. Dengan falsafah keseimbangan antara seni dan alam kekayaan sekitarnya, Art Nouveau menggoreskan garis dan pola rancangan yang mengalir alami.
Perabotan furniture masa lampau yang pernah menjadi ikon zaman tetap masih digemari. Anda dapat mengaplikasikannya di tempat-tempat favorit, terlebih pada rumah tinggal anda. Mau ? SOLD OUT





















































Tidak ada komentar:
Posting Komentar